love doesn’t come with undo button (bagian 2)
at first, I call it love
mari menyerah pada segala ketidakmungkinan takdir yang ada.
Beberapa hari ini situasi pekerjaanku sedang tidak baik-baik saja. Everything is cruel, I’m at my lowest. Di situasi seperti ini, biasanya hanya es krim rasa coklat yang bisa membantuku meredam isi kepala. Baiklah, keadaan ini tak bisa dibiarkan terlalu lama, pekerjaanku sudah terlalu banyak yang terhambat. Sore ini sepulang kerja aku mampir sebentar di salah satu kedai es krim di pertigaan jalan. Aku memesan eskrim rasa coklat, itu saja. Kali ini aku sedang tidak ingin menambahkan topping apapun ke dalam es krimku. Aku menyendoknya sedikit, lalu memejamkan mataku. Perpaduan rasa manis dan pahit ini sedikit kurang pas, ada salah satunya lebih mendominasi. Tentu saja karena ini bukan kedai es krim yang biasanya aku kunjungi. Rasanya aku ingin kembali ke tempat tinggalku kemarin. Tidak, mungkin aku hanya ingin pergi ke kedai es krim coklatnya saja.
Walaupun
begitu, es krim ini sedikit menolongku. Aku melirik jam di pergelangan
tanganku. Sudah waktunya pulang. Aku beranjak dari kursi dan bersiap untuk
pulang. Beruntung, di dekat kedai ini ada halte bus. Tak jauh, hanya beberapa
meter ke utara dari kedai es krim ini. Sekitar 5 menit, bus yang ku tunggu
datang. Aku naik dan duduk di baris ke lima, atau enam, entahlah. Berusaha memilih musik apa yang cocok
untuk situasi seperti ini.
“Ratnaya?”
“Eh,
mas Arva.”, jawabku kaget dan sedikit canggung, batal memasang earphone yang sudah siap
dipakai di telingaku.
“Baru
mau pulang? Habis dari mana?”
“Hehe
iya, mas. Tadi habis mampir dari kedai es krim di pertigaan jalan itu. Mas Arva
sendiri?”
“Boleh
aku duduk disini?”
Aku
mengangguk, ia duduk di sebelahku. Arva tersenyum sambil menatap wajahku, seperti
sedang memeriksa sesuatu, dan akhirnya ia bertanya.
“Berat
banget, ya, Nay?”
“Eh?
Engga kok, mas. Kenapa nanya gitu?
“Naya,
aku tau ada yang ga beres di divisimu. Pasti kamu beberapa hari ini kepikiran
tentang itu, kan? Sore ini bahkan kamu nyampe lari ke kedai es krim.”
Aku
terdiam.
“Gapapa
loh, kalau mau cerita. Kayak biasanya, kan?”
“Hehe,
Iya banget, mas. Pusing mikirin itu. Dari kemarin divisiku rapat berkali-kali
buat bahas masalah ini. Mungkin semua orang di divisiku udah pada cape juga ya, mas.
Ini semua rasanya ga selese-selese. Dari sini sebenernya aku juga bisa belajar,
belajar nurunin ego, belajar ngalah sana sini, tapi lama-lama rasanya cape
juga. Harus dijalanin, tapi cape, tapi gapapa.”
Aku
dan dia sama-sama diam. Menyadari sesuatu, aku langsung menyambung kalimatku
sebelumnya.
“Eh,
mas maaf, ya. Kok malah jadi keterusan ngeluh gini. Maaf.”
“Heii,
kamu mau ngeluh semalaman suntuk juga pasti ku dengerin, nay.”
Aku
tersenyum, merasa diterima, merasa mulai ringan untuk bercerita. Tak sadar aku
meneruskan keluhan-keluhanku tentang masalah yang beberapa hari ini mengganggu.
“Makanya,
kemarin aku bener-bener makasih ke mas Arva, makasih udah dibantu buat nyiapin
keperluan. Ya walaupun ngga banyak, tapi bener-bener bantu banget di last minute, mas. Terima kasih banyak, ya.”
“Iyaa,
kamu udah bilang makasih buat hal itu 85 kali, lho.”
“Eh,
dihitung?”
Ia
terkekeh.
“Engga lah, bercanda doang. Kalau kamu serius terus bikin tambah cape, loh, pikirannya.
Anaya, ga semua orang bisa kayak kamu. Kamu bisa nge-handle ini dengan baik.
Beberapa hari yang lalu aku juga sempet nanya ke salah satu divisimu. Jadi aku
sedikit banyak udah paham, nay. Terus kemarin aku sempet denger kamu ngobrol sama salah satu temen divisimu di pantry. Dadaku kayak kesentak gitu. Ga salah kalo kamu
dipilih buat ngehandle project yang ini.”
“Ya,
mau gamau kan harus dijalanin juga, mas. Dan ternyata aku bisa dapet banyak
pelajaran dari sini.”
“Selamat
ya, Naya.”
“Mas,
terima kasih banyak, ya. Aku gatau harus ngomong apalagi selain terima kasih.”
“Jangan
terima kasih ke aku. Terima kasih sama dirimu sendiri. Sometimes it’s so
hard. It’s not easy, I get it. But I think that you are doing so well. Why
can’t you see that?
Oh,
and also, the world is much brighter with you in it. It really is.”
Aku
merasa sekelilingku membeku. Di dalam kepalaku rasanya blank, dan hanya ada
tiga kata yang tersisa di dalamnya.
“Terima
kasih, mas. Terima kasih banyak sekali!”
“Iyaa,
udah jangan banyak-banyak terima kasihnya.”
“Gapapa,
aku lagi pengen ngomong terima kasih yang banyak, hehe.”
Kita
berdua terdiam, menerawang lurus ke depan, berperang dengan isi kepala kita
masing-masing.
“Kamu
paham kenapa aku begini?”
Suara itu membuatku mengubah pandanganku ke arahnya, sedikit kesulitan untuk menelan ludah. Semoga yang ku pikirkan tidak benar, aku belum siap di posisi ini. Tapi memangnya mau menunggu sampai kapan?
Suara klakson bus memutuskan lamunan
singkatku.
“Bohong
kalau aku bilang aku ngga paham. Beberapa temen juga udah ada yang notice.
Sudah sejak kapan, mas?”
“Apanya?” Dia terkejut, diam sebentar.
“Jadi,
kamu udah benar-benar tahu, ya?
Aku
mengernyitkan dahiku.
“Jujur,
kamu itu emang beda, sedari awal liat kamu, kamu itu beda sama yang lainnya.”
“Beda?
Apanya yang beda? Kenapa bisa bilang gitu?”
“Aku
engga tahu pasti di bagian mananya yang beda. Aku sendiri juga ngga bisa
jelasin. Sayangnya, kadang tuh kita ngga bisa milih sama siapa kita akan jatuh
hati. Dan jujur aja, aku juga ngga berani tanya atau menyampaikan sejak awal
karena ya, aku ngga enak nanti kita malah jadi sama-sama ngga enak.”
Aku
menatapnya dengan serius
“Ya
emang sejak awal aku lihat ada yang beda sama dirimu, dan mungkin ya saat itu
aku mulai menaruh hati sama kamu, Ratnaya.”
“Sejak
awal? Sejak minta back-up project itu? Atau sejak apa?”
“Sejak
pertama kali kamu kesini, sejak hari perkenalan itu. Mungkin emang salahku,
sejak awal aku selalu mikirin kamu. Tapi sayangnya kita tuh ngga bisa milih
bakal jatuh hati ke siapa. Ini semua diluar kendaliku.”
“Demi
apapun,”, ucapku dengan mata sedikit terbelalak.
Aku
terkejut. Aku sama sekali tidak pernah
percaya dengan yang namanya jatuh cinta pada pandangan pertama. Ya, karena,
bagaimana bisa ada seseorang bilang kalau kamu beda dengan yang lainnya, hanya
dengan pertemuan yang pertama kali? Selama ini aku berpikir, ngga make sense.
Kecuali kalau orang itu cantik, ganteng, atau istilah-istilah yang sama dengan
good-looking. Aku, yang selama ini harus mengandalkan cara berkomunikasiku,
cara berpikirku, dan cara-cara yang membutuhkan waktu untuk orang lain tahu dan
melihat ke arahku, tidak pernah menyangka akan dihadapkan dengan situasi
seperti sekarang ini.
“Tapi
aku juga sadar dengan posisiku, dan dari situlah aku tidak berani bereskpektasi
yang lebih, sunguh. Makanya aku mikir untuk ungkapin semua ke kamu ketika waktunya
udah pas. Aku ga mau membebani pekerjaanmu disini.”
“Eh,
ini semua tuh, beneran ngga sih, mas? Seorang Bhakati Arva?”
Ia
tersenyum, memandang erat pada bola mataku.
“I love you.”
Tidak ada yang lebih lucu dari seseorang yang menyatakan perasaannya di dalam bus kota. Namun sayangnya, beberapa hal memang tidak seharusnya dipaksakan.
Bersambung.
Komentar
Posting Komentar